Selasa, 23 Januari 2018

Aku Ingin Menikmati Suasana ini

Aku Ingin Menikmati Suasana ini
Kini, langit begitu cerah
angin berhembus begitu sedang
tidak terlalu cepat
tidak juga terlalu lambat
inikah sepoi sepoi ke Agungan?
Di pintu pintu rumah depan teras
terdengar ucap salam
orang bersedekah memberikan makanan
beraneka makanan lezat siap santap
hilir mudik wanita berjilbab
senyum ramah tutur bahasa alus
langkah dalam struktur akhlaqul karimah
ramai kebisingan roda satu, dua, tiga dan empat
menambah perbedaan waktu yang bertanda tanya
Aku ingin menikmati suasana ini
biarkan aku berdiri
Bersholawat pada Nabi
pena 2, 23 januari 1434 H

Sabtu, 14 Januari 2017

Cintaku

Cintaku

Dirimu permata
Di cari banyak pria
Siapa yang tak tegila gila
Mustahil jika aku pura pura tak gila
Dirimu mutiara
Di buru banyak pria
Entah siapa yang mengela
Padahal aku saksi nyata nyata suka
Dirimu wanita
Di sandingkan dengan pria
Bagi siapa saja bisa menggoda
Bohong bila diriku tak cemburu buta
Dirimu hiasan dunia
Yang sedang menjadi incaran pria
Bagaimana aku tak mengidamkannya
Sedangkan cinta menusuk relung dada
Dirimu tetap wanita
Diriku tetap pria
Tentu karena cinta
Bersama kita bahagia

14 Januari 2017

Hai...

Hai...
Sapaku seperti biasa
Mengetuk hati yang tidur
Tidur dalam kesenangan
Tanpa rupa yang menjelma karena cinta
Sedikit resah datar bertanya
Hai...
Sapaku seperti biasa
Yang ingin dekat
Sedekat bahasa hati
yang katanya itu cinta


10 januari 2017

Kau ku sebut purnama


Kau ku sebut purnama
Perlahan mendekat
Menulis cinta yang tak ada habisnya
Ku kirim lewat hati yang terpanggang cahyamu
Aku ingin gosong
Aku ingin fanak
Mengering di tengah bulan kuning telanjang
Bercumbu satu keindahan
Griming ragaku hantam asmaraku
Menggigil sekujur tubuhku musnahkan hasratku
Kau ku sebut purnama
Sempurnanya sinar di antara satu dan dua sinar
Bayangku intip tingkahmu
Menawan itu milikmu
Rupawan itu milikmu
Kau yang benar menumpahkan asaku
Pada detik perintahNya
Aku telah mengadu padaNya
Lumajang, 11 Januari 2017

Senin, 03 Oktober 2016

Siang Meriang

Aku seperti siang
Yang tak punya rupa
Malu
Memanjakan hak orang lain
Mengulurkan tangan di siang meriang
Sedangkan
Tangan itu sudah berkeringat
Nafsunya sendiri
Menghayal tinggi
Terseok angin
Tutup
Ada kaca samping kiri
Jangan intip
Karena aku sudah tidur
Pulas...
Kembalilah pulang
Bawa mimpimu
Kelak di sorga

Jumat, 28 Agustus 2015

DI MASJID ITU AKU TUNGGU KAMU


Siang itu
Cahaya mentari semakin meninggi
Semilir angin bercanda pada rambut dan rumput
Kau yang manis
Cepatlah hampiri aku
Di depan masjid agung
Aku menunggumu
Wahai rupawan..
Aku belum mengenalmu
Tapi aku mengerti potret senyummu
Dan merdu suaramu
Cepat hampiri aku
Di depan masjid agung
Aku menungggumu
Kau yang cantik…
Ijinkan aku menulis pujian dan syair untukmu
Kebenaran cipta anggun yang kau punya
Cinta dan kerinduan
Entah untuk siapa
Datang dekati aku
Di depan masjid agung
Aku menunggumu

November 




Minggu, 18 Januari 2015

Kini kau dimana


Dua belas bulan lebih
Ku tengok keluar dari jendela kamar
Mengharap mentari siang membawa bayangmu
Bayangan kasih tanpa wujud
Maka…
Cukup bagiku melafazdkan walaikumussalam
Seperdetik waktu menjadi ribuan do’a
Angin berhembus dari arah kadhimah
Berharap membawa senyummu
Tentu…
Cukup nafas menyambutmu, ahlan !!!

15 Desember 2014,